Awal Perkenalan Irawati Sebelum Tewas di Tangan Suami Ketiganya

Awal Perkenalan Irawati Sebelum Tewas di Tangan Suami Ketiganya
Suasana di rumah duka.(BERITAKINI.CO/ZUBAIDAH)

BERITAKINI.CO, Lhoksukon | Kematian Irawati dan dua anaknya di Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Selasa kemarin (7/5/2019), membuat geger masyarakat di Aceh Utara. Korban ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumahnya dengan sejumlah luka bekas senjata tajam.

Dalam tempo kurang dari 24 jam, polisi meringkus pria bernama Aidil (40) di kawasan Bundaran Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Baca: Ibu dan Dua Anak Tewas Dibunuh oleh Ayah Tirinya di Aceh Utara, Salah Satunya Masih Bayi

Pria asal Kelurahan Sugihartjo, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatra Utara itu merupakan suami ketiga korban.

Saiful Bahri, tetangga korban yang juga rekan kerja Aidil sedikit bercerita tentang awal mula perkenalan Irawati dengan pelaku. Almarhumah Ira, kata Saiful, pertama kali mengenal Aidil berawal dari salah sambung telepon pada tahun 2018 lalu.

Saat itu, Ira yang berencana menelpon saudaranya di kampung salah sambung ke nomor handphone milik Aidil. Singkat cerita, kata Saiful Bahri, keduanya berkenalan dan sering berkomunikasi.

Baca: Terungkap, Aidil Bunuh Istri dan Anak Tirinya Karena Ingin Kuasai Harta

"Aidil menceritakan bahwa mereka kenal lewat telpon, mungkin setelah itu berlanjut hingga menikah," ujar Saiful Bahri, saat bincang-bincang dengan BERITAKINI.CO, di rumah duka, Rabu kemarin (8/5/2019).

Salah satu keluarga korban Darmawati juga mengatakan hal serupa. Awalnya keluarga tidak mengetahui tentang pernikahan mereka. Kerabat mengetahui korban telah menikah kembali dua bulan kemudian saat Aidil ikut menetap di Ulee Madon.

Baca:Begini Cara Aidil Menghabisi Istri dan Dua Anak Tirinya di Aceh Utara

"Mereka nikahnya tidak di sini, mereka melangsungkan pernikahan di Medan. Korban saat itu hanya membawa anaknya bernama Zikri, sementara anaknya yang lain dititipkan sama keluarga," kata Darmawati.

Selama tinggal bersama korban dan anak tirinya, kata Darmawati, Aidil dikenal sebagai sosok penyayang keluarga.

“Pelaku merupakan sosok yang memang agak tegas. Saya pernah berjumpa beberapa kali dan terlihat dia melindungi kakak saya dan anak-anaknya," kata Darmawati.

Mereka bahkan tidak menyangka pelaku tega melakukan perbuatan sadis tersebut kepada istri dan anak-anak tirinya.

“Begitu mengetahui pelaku yang membunuh kakak dan anak-anaknya secara sadis kami terkejut dan terpukul. Keluarga berharap pelaku dihukum seberat-beratnya karena pelaku telah menghilangkan tiga nyawa sekaligus,” harap Darmawati.

Sebelumnya, polisi mengungkap motif pembunuhuan satu keluarga yang dilakukan Aidil Ginting. Dari hasil penyidikan, Aidil nekat membunuh istrinya, Irawati karena mengincar harta korban. Selain istrinya, pelaku juga menghabisi anak tirinya, Zikra (14) dan bayi berusia 16 bulan.

Kasat Reskrim Polres Kota Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang mengatakan, Aidil yang bekerja sebagai buruh bangunan merupakan suami ketiga Irawati. Sedangkan suami pertama korban yang sudah meninggal dunia dikenal cukup kaya dan meninggalkan harta yang banyak untuk Irawati.

"Selama 4 bulan umur pernikahan mereka sudah mulai mengalami keretakan, karena korban sudah mulai mengeluh pendapatan pelaku yang tidak sesuai. Pelaku juga kerap membahas masalah harta korban," kata Kasat.

Menurut Kasat, pelaku menikahi Irawati karena mengharapkan harta gono-gini ketika misalnya keduanya bercerai atau Irawati meninggal dunia. Namun, keluarga Irawati menolak untuk menandatangani pengesahan harta gono-gini itu. Sebab, harta itu diperoleh Ira sebelum menikah dengan pelaku.

“Sebulan yang lalu pelaku sempat mengancam keluarga korban karena tidak mau mengesahkan bahwa si pelaku ini berhak atas harta dimaksud. Karena sakit hati, sehingga terjadilah pembunuhan tersebut,” kata Kasat.

Atas perbuatannya itu, Aidil dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan berencana dan atau Pasal 80 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan Pasal 44 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang KDRT dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...