Anggota DPRA Martini Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan

Oleh ,
Anggota DPRA Martini Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan
Anggota DPRA Martini (kiri) dan Masrifa | Foto: Ist

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Penyidik Polres Aceh Timur ternyata telah menetapkan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Martini sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan. Dia sebelumnya dilaporkan oleh Masrifa, istri petugas Rutan Idi.

Dari Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) yang diperoleh, penyidik memang telah memanggil Martini dalam kapasitasnya sebagai tersangka untuk pemeriksaan.

Kuasa Hukum Masrifa, Muhammad Zubir juga mengakui telah menerima SP2HP tersebut dari penyidik. 

"Berdasarkan SP2HP yang kita terima, beliau memang sudah dipanggil sebagai tersangka,” kata Muhammad Zubir, Senin (18/3/2019).

Masrifa melaporkan Martini pada 7 Januari 2019 dengan tuduhan penganiayaan. 

Aksi saling lapor sempat terjadi karena Martini pun sebelumnya terlebih dulu membuat laporan ke Polres Aceh Timur dengan tuduhan yang sama. Dan Masrifa juga sudah berstatus tersangka.

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, kata Zubir, saat ini kedua belah pihak sedang mengupayakan damai.

"Memang Martini itu sudah tersangka, tapi sekarang sedang melakukan upaya damai dengan klien kami yang juga tersangka, jadi sama-sama tersangka," kata Zubir.

Meski begitu, kata dia, upaya damai dan rencana saling cabut laporan itu, hingga saat ini belum mencapai kata sepakat. "Ya, sekarang belum, semoga segera," harapnya.

Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro dikonfirmasi BERITAKINI.CO membenarkan jika kasus tersebut saat ini dalam tahap mediasi. "Saat ini sedang dilakukan upaya damai," ungkap Kapolres.

Terpisah, Martini mengaku belum menerima surat panggilan dari penyidik polisi dalam kapasitasnya sebagai tersangka.

“Saya sudah mengetahui penetapan tersangka, tapi saya belum menerima panggilan lagi,” kata Martini.

Ia pun mengakui jika kasus tersebut saat ini sedang dalam proses damai. Bahkan, kata Martini, saat ini pihak Masrifa sudah membuat surat pernyatan mencabut perkara dan surat peryataan untuk ditandatangani bersama.

“Saya sudah setuju damai, mereka pun sudah sepakat. Bahkan mereka sudah menyatakan untuk mencabut perkara dan menanggung semua biaya kerugian yang saya alami. Baik itu kerusakan mobil, biaya rental mobil selama mobil saya diperbaiki dan biaya lainnya,” kata Martini.

Kasus ini, kata Muhammad Zubir mencuat dari sebuah peristiwa perkelahian di antara Masrifa dan Martini, saat berada di depan Rutan Kota Idi.

"Jadi saling serang atau berantam, dalam kasus ini duel. Penyebabnya sudah lama terkait masalah keluarga, sebelumnya pernah didamaikan. Martini pernah dekat dengan suami Masrifa sehingga gejolak, namun pernah dibuat perdamaian oleh pihak Desa Uteun Dama ,Kecamatan Peureulak," kata Muhammad Zubir beberapa waktu lalu.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...