Anggap Pleno Berjalan Ilegal, Saksi Muzakir Manaf-TA Khalid Walkout

Oleh ,
Anggap Pleno Berjalan Ilegal, Saksi Muzakir Manaf-TA Khalid Walkout
Foto: BERITAKINI.CO/Irwan Saputra

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Kerena rapat pleno rekapitulasi tetap dilanjutkan, dua saksi Pasangan Calon Nomor Urut 5 Muzakir Manaf-TA Khalid, Wen Rimba Raya dan Adi Laweung memilih walkout dari ruang rapat.

Wen Rimba Raya sebelumnya mengatakan, jika mereka tetap ikut dalam pleno tersebut, itu artinya sama saja dengan melegalkan keputusan yang melanggar. 

“Jika kami lanjutkan sama saja kami melegalkan kepemimpinan yang salah pula, maka ijinkan kami meninggakan rapat ini,  dan ijin kami meninggalkan rapat ini dengan menandatangani Form C6,” pinta Wen Rimba Raya di Gedung DPRA, Sabtu, (25/2/2017).

KIP Aceh lantas memberikan Form C6 untuk ditandatangani, dan setelah mengisinya mereka menyerahkan ke ketua KIP Aceh dan meninggalkan ruangan. Lalu rapat pleno dilanjutkan.

Sebelumnya, Ketua KIP Aceh Ridwan Hadi mengatakan tidak mungkin menunda rapat rekapitulasi seperti permintaan saksi pasangan nomor urut 5 tersebut.

“Kita akan mulai dulu, nanti baru kita lihat apakah benar seperti yang dikatakan atau tidak karena kita tidak mungkin menunda, sementara rapatnya saja belum kita mulai,” katanya.

Adi Laweung sempat menjawab bahwa mereka tetap menolak pleno tersebut. “Kami tetap meminta KIP Aceh menghentikan rapat pleno ini karena cacat hukum,” katanya.

Sementara Komisioner KIP Junaidi mengatakan, penyelenggara tak menutup mata tentang dugaan yang disampaikan saksi pasangan nomor urut 5.

“Tapi kita mulai dulu dari Aceh Barat baru nanti kalau ada persoalan baru kita selesaikan,” ajaknya.

“Karena kalau tidak kita mulai, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah jika tanpa kita buka dulu, ibaratnya bagaimana seorang bisa melahirkan tanpa adanya orang hamil.”

Wen Rimba Raya menimpali, penundaan ini penting kerena plno tersebut bakal merugikan pihaknya. “Pilkada ini bukan hanya melanggar hukum tapi merugikan pihak kami. Karena kalau hari ini pemimpin kita putuskan salah maka pemimpin ke depan juga salah,” katanya.

“Kami harapkan kepada panwaslih kalau salah katakan salah,  kalau tidak kami akan keluar dari ruangan ini.”

Ketua Panwaslih Aceh Barat mengaku jika pelanggaran memang ada terjadi. Sayangnya, sampai akhir pemungutan suara, tidak satupun laporan yang diterima panwaslih.

Ketua Panwaslih Aceh Samsul Bahri juga mengaku hal yang sama. “Karena memang ada pelanggaran cuma tidak laporkan saja,” katanya.(*)

Komentar

Loading...