2.000 Warga Desa Ini Siap Donorkan Mata

2.000 Warga Desa Ini Siap Donorkan Mata

BERITAKINI.CO | Bicara donor, identik dengan donor darah. Jarang sekali donor bagian tubuh ditemui di Indonesia, namun ada satu desa yang berpotensi disebut sebagai sumber terbesar bank mata.

"Kami juga berharap di Tasikmalaya bisa ada Bank Mata, yang nantinya mempermudah pengambilan kornea mata dan tidak banyak memakan waktu. Karena sekarang pengambilan kornea mata masih dilakukan oleh Tim Mata dari Bandung," kata Humas Keluarga Donor Mata Tasikmalaya, Usama Ahmad Rizal dalam pernyataan resminya, Minggu (30/12/2018).

Rizal mengapresiasi masyarakat Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya yang mendaftar sebagai calon anggota donor mata. Dari sekitar 5.600 warga, 2.000 di antaranya memantapkan hati sebagai calon donor mata.

Spirit yang mendorong banyaknya calon pendonor mata di desa ini, imbuh Rizal, adalah rasa kepedulian sosial tinggi. Tak hanya terkait donor mata, di Desa ini juga menjadi salah satu lumbung donor darah di Kabupaten Tasikmalaya.

Melihat potensi yang sangat besar tersebut, dibentuklah Keluarga Donor Mata (KDM) Desa Tenjowaringin pada tahun 2016. Dalam rentang waktu dua tahun, sebanyak 13 orang yang telah merelakan kornea matanya.

Berkat antuasiasme warga, desa ini ditetapkan sebagai Desa Siaga Donor Mata. "Deklarasi Desa Siaga Donor Mata merupakan ikhtiar kami untuk mengampanyekan donor kornea mata dan Desa Tenjowaringin resmi menjadi desa dengan calon pendonor mata terbanyak se-Indonesia," ulas Rizal.

Julukan bagi desa tersebut dianggap layak. Lantaran secara statistik jumlah calon donor mata yang terdaftar di Bank Mata Indonesia sangat rendah sekali apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu, jumlah orang yang mengalami kebutaan di Indonesia sekira 3,5 juta orang.

Ketua Bank Mata Jawa Barat dr. Alma Lusiyati menjelaskan, kebutuhan untuk kornea mata sejauh ini yang sudah terdaftar siap menerima donasi kornea mata ada sebanyak 794 orang di RS Cicendo, Kota Bandung.

Sejauh ini pendonor mata dalam negeri masih kecil angkanya. Untuk memenuhi permintaan tersebut, urai Alma, masih bergantung pada pendonor luar negeri.

Minimnya jumlah pendonor kornea mata disebabkan faktor kultur yang masih tabu. Padahal kegiatan penggalangan donor kornea mata dilandasi dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertanggal 13 Juni 1979. Bunyinya sebagai berikut:

"Seseorang yang semasa hidupnya berwasiat akan menghibahkan kornea matanya sesudah wafatnya, dengan diketahui dan disetujui dan disaksikan oleh ahli warisnya, wasiat itu dapat dilaksanakan dan harus dilaksanakan oleh ahli bedah."

Rubrik
Sumber
okezone.com

Komentar

Loading...